Halaman

Rabu, 30 Juli 2014

Analogi Jogging

Assalamualaikum :)
Berhubung masih dalam pekan kehangatan Idul Fitri /tsah/ Aul mau minta maaf ke temen-temen semua. Sebagai manusia yang tidak sempurna dan sering salah, Aul pun tak akan luput dari dosa-dosa.. Semoga teman-teman berkenan untuk memaafkan Aul yhaaa ^^ Happy Ied Mubarak.
_________________________________________________________________________

Sebenernya gue gak pandai beranalogi dan gak pandai merangkai kata untuk menjadi rangkaian yang indah dan enak di baca. Dan setelah gue sadari, tulisan dalam blog gue ini malah terkesan "menye-menye" cengeng, dan cewek banget (ya emang gue cewek sih) Tapi insyaAllah gue bakal bermetamorfosis menjadi lebih baik dan gak terlalu mellow menyikapi semua persoalan. Karena menjadi terlalu mellow itu capek dan membuat nafsu makan meningkat..... ya sangat meningkat. Hem.

Gue baru menyadari satu hal lagi dalam hidup gue. Yaitu... Gue terlalu sering membuang-buang waktu untuk hal yang gak pasti dan memang gak akan pernah pasti. Gue pun typical "terlalu" gampang memaafkan dan melupakan rasa sakit hati. Selain itu gue juga susah buat nethink dan menganggap nyaris semua orang itu baik. padahal enggak kan? Ya itu yang menjadi masalah terbesar gue dan menyebabkan gue selalu jatuh di lubang yang sama dan pada akhirnya gue pula yang dibego-begoin sama andri -_- yaaa andri mungkin udah bosen kali ya dengerin cerita gue yang terlalu absurd dan seperti de javu tiap cerita. Hem.
Tapi gue sempet terharu Andri bilang (kurang lebihnya gini) 

"Kalo gue gak bego-begoin lu, lu gak pernah sadar apa kesalahan lu, ul. Dan lu bakal ngulanginnya terus." Andri, 16 Tahun, Kakaknya Adrian (?) 
Andri udah garis keras aja gue masih bala gini gimana dia cuma diam mendengarkan pasti gue lebih bala. Oh well, kalian pasti gak tau andri ya? Hemmm... di post selanjutnya deh gue mau ceritain andri wkwkwk.

Balik ke judul awal.
Analogi Jogging

Kemarin, 29 Juli 2014. Hari ke-dua Idul Fitri.
Gue emang berniat untuk Jogging di komplek perumahan. Namun ternyata malam harinya (28 Juli 2014) gue skype sama sebut aja Bintang, dan dia bilang mau jogging juga -_- eh gatau kenapa gue malah refleks mau join wkwkwk dan akhirnya keesokannya kita janjian buat jogging.

Karena gue mempunyai teman jogging akhirnya gue berubah haluan untuk jogging di TMII aja. karena kalo di komplek pasti dia gak mau -_-
Gue berangkat dari rumah jam 6 pagi, terus ketemu dia dan pukul 7 kita udah di TMII. Setelah parkir, make sepatu, dan menyimpan barang berharga. Kita pun bergegas untuk lari. BTW karena emang gue udah lama banget gak olahraga jadinya yaaaa... Baru 200-300 meter lari aja gue udah bengek wkwk. Jadinya gue memutuskan untuk jalan saja. Membiarkan dia terus berlari. Karena gue gak mau malu akhirnya gue berusaha untuk berlari dengan bertekat.... gue mau kurus wkkwkwk.. tapi ternyata gagal sodara sodara. -_-

Dia sudah cukup jauh di depan dan gue berusaha terus berlari. Sesekali dia menengok kebelakang kemudian jalan. Akhirnya gue bisa menyamakan langkah gue dengan dia dan.... terjadilah perbincangan ditengah-tengah napas gue yang nyaris habis. Kurang lebihnya gini:

Aul (A) : Lu sering lari ya? Kuat banget. napas gue udah abis nih
Bintang (B) : Hem.. sampe apal jogging tracknya. Biasanya gue lari 3x muterin ini.
A : .......
B : Kalo lari nafasnya dari hidung, terus kalo lagi istirahat baru dari mulut. biar gak gampang capek
A : .......

A : Tang, Lu lari aja deh duluan gue udah gak kuat lagi. Gue jalan aja
B : Lu aja yang duluan biar gue di belakang
A : Gamau ah. Gue gak bisa lari. Lu lari aja duluan nanti kita ketemu di start awal tadi. Lagi pula gue yakin lu gak bakal pulang duluan karena lu emang gak bisa pulang kan kunci sm hp lu ada di tas gue hahahaha..

Akhirnya Bintang pun berlari dan gue tetap jalan di belakang sembari memperhatikan punggung yang menjauh dan mengecil perlahan kemudian hilang di belokan... gue pun menyadari suatu hal, cepat atau lambat ia pun pasti akan menghilang tanpa bisa gue tahan sebagai mana keras gue mencoba.
Ia terus berlari sesekali berhenti ketika merasa lelah dan menengok kebelakang. Kemudian berlari lagi dan benar-benar menghilang. 
Ya gue pun menyadari... Jogging di pagi ini bisa dianalogikan seperti gue dan dia. Kita memulai start bersamaan, namun dia konsisten untuk berlari, gue yang sudah kehabisan napas berjalan untuk mengumpulkan energi. Dia yang berlari dan gue memutuskan berjalan, kita gak bisa bersatu. Gue terlalu lelah untuk berlari dan walau berusaha sekeras apapun gue gak bisa menyamakan dia. Walau sesekali dia beristirahat dan menengok kebelakang untuk sesaat tapi dia tak pernah sepenuhnya menengok dan menunggu. Dia hadir ketika lelah dan membutuhkan tempat untuk singgah sebentar dan kemudian meneruskan untuk berlari lagi. dan gue akan tetap berjalan, tidak bisa menggapainya.

Sampai pada akhirnya gue menemukan 2 jalan yang berbeda, kekanan atau kekiri. Hati gue memilih untuk kekanan, tapi ego gue memutuskan ke kiri. dan akhirnya gue berlari ke kiri. Menyusuri jalan sepi dan sesekali melihat anak-anak berpasang-pasangan mengayuh sepeda. aaaahhh... bayangan masa lalu pun kembali hadir dan gue harus menguburnya lagi. Gue terus berjalan dan sesekali berlari namun gue telah kehilangan jejaknya. Gue berusah untuk secepat mungkin sampai ke garis finish karena gue tahu dia pasti menunggu disana. Ternyata dia memang sudah menunggu disana dengan peluh yang bercucuran. Dan kenyataannya dia berbelok ke kanan dan gue kekiri... kita tidak sejalan....

Analogi selanjutnya adalah.... Dia yang sudah menemukan akhir cerita sudah bersiap untuk duduk dan merelaxkan tubuh. Dia menunggu bukan karena ingin, tetapi karena terpaksa untuk menunggu. Kenyataannya adalah barang-barangnya ada di tas gue. mungkin kalo gak ada di tas gue dia akan pergi ._. Seperti akhir perjalanan ini. Dia yang telah menemukan garis akhir akan pergi kapan pun tanpa harus menunggu. Dan yang harus gue lakukan adalah tetap survive apapun yang terjadi. yakan?

Diakhir pagi ini kita sama-sama duduk, memandang kebelakang sejenak, bercerita dan sebelum akhirnya berpisah. Sampai akhirnya gue pun menyadari. Ucapan "Terimakasih" ini pun dapat diartikan sebagai "Selamat tinggal".

Dan gue tetap harus semangat untuk kembali menata semuanya dan bekerja keras untuk hidup gue kedepan.
Terimakasih kamu telah mengajarkan banyak hal... Tentang cinta, kasih sayang dan persahabatan. Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, menghabiskan waktu dan berbagi cerita. Terimakasih kamu telah memberikan kebahagiaan. Walau aku sebenarnya sadar. Kebahagiaan, tawa, ceria yang aku rasakan karenamu sebenarnya adalah kebahagiaan yang terjadi diatas air mata. Terimakasih...



Bekasi, 30 Juli 2014

Aulia Putri