Ini adalah hari yang kesekian kalinya kita saling membangun tembok es yang dingin. ini adalah hari kesekian kalinya kita tak saling menyapa, bercengkrama, bercanda, tertawa bersama. Ini adalah hari kesekian kalinya sejak hari terakhir kita saling melempar senyuman. Entah kenapa, sekarang... semua terasa berat. Tak ada yang mau untuk mulai menyapa, memulai pembicaraan, mencairkan suasana... Tak ada yang berani. Aku? masih mengumpat dibalik kabut rasa gengsi yang enggan untuk pergi. Aku? hanya berani untuk menunggu... menunggu dan terus menunggu karena aku tidak berani untuk memulai terlebih dahulu.
Aku yang bermain dengan angan angan dan ekspektasi yang tinggi tentang kita. Aku rasa cuma aku.. bukan kita, tapi apalah arti aku berharap sendirian sedangkan kamu tidak? apa artinya aku bermimpi sendiri namun kamu berjalan berlawanan arah denganku? semuanya gak ada artinya. kadang aku malah berharap untuk terus tertidur agar aku dapat bermimpi indah. karena kenyataan tak seindah mimpiku.
Aku tak berharap tinggi lagi, cukup menjalin silaturahim yang baik dengan mu adalah salah satu kebahagiaan yang aku inginkan sekarang. Aku tak berharap kita kembali seperti dulu. aku cuma ingin kita saling melempar senyum saat berpapasan. bukan membangun tembok es yang dingin..
penyesalan memang datang terakhir. iya terakhir setelah semuanya sudah terjadi. setelah aku kembali melakukan hal bodoh yang seharusnya tidakku lakukan, aku menyesal... sungguh.
Maaf, bukan maksudku untuk seperti itu, maaf sungguh tidak pernah terbesit seperti itu, maaf aku tak pernah berani untuk memulai semuanya, maaf aku tidak berani untuk menyapamu, maaf karena aku seakan tidak ingin melihat mu. tapi apa yang ku lakukan tidak semuanya berasal dari hati. sungguh.
maaf.
ul.